Saturday, October 24, 2020

Catatan 4

Aku mendengar orang-orang seketika mengutuk langit, kemarin.

Sekedar memberi pertanyaan, kenapa kita harus melewati ribuan kilo cahaya untuk mencapai ketinggian?,
Sedangkan puncaknya adalah kegelapan?.
Lalu melewatkan kemungkinan menjadi manusia.
Hanya untuk diam-diam memberi harapan, bahwa kita akan ada kemudian.

Sejenak lamunan itu terhenti. ada kamu disitu, di antara kursi, rumah tua, dan cinta yang telah lama kau lupakan.

MILIKKU YAANG BERHARGA

 Ada bagian dari tubuhku, yang kata ibu itu sangat berharga dan kata ayah juga begitu, bahkan hampir semua orang yang mengatakan bahwa itu lebih dari isi kepala dan kemampuanku.


Entahlah mungkin ada sebagian orang yang beranggapan "itu" bukanya tidak penting, karena harga diri bukan diukur sebatas "itu" dan itu bukan standar yang bisa di tetapkan.

Ada memang sebagian orang yang menganggap itu tak penting.
Apakah kau juga bagian dari sebagian yang kukatakan? semoga saja.
Jika memang benar kata ibu, ayah dan hampir semua orang bilang itu berharga, berarti aku sudah kehilangan yg berharga dari tubuhku.

Hanya ingin ku katakan padamu
Jika ku katakan ke yang lain entahlah
Mungkin mereka akan menganggapku bodoh dan merasa jijik berbicara denganku.
Tapi aku tak bodoh, aku tak se menjijikan yang mereka pikirkan.

Dan kau tahu
Aku bukan hanya memberikan tapi aku juga menerima. Kujadikan hal tersebut sebagai tahap diriku belajar. Ternyata dengan itu aku belajar ikhlas semacam ihklas yang sesungguhnya. Aku juga membuktikan semua teori yang kupelajari selama ini.

Kau tahu akan aku ungkap bahwa benar perempuan hanya menjadi pemuas, kau tahu perempuan memang sudah didik menerima dirinya lemah makanya bisa dibikin seenaknya.

Hahaha, aku selalu bereksperimen dengan yang kubaca bahkan sampai kehilangan miliku yang berharga, menurut Ibu.

Aku kehilangannya pada 10 Oktober 2019.
Kata orang penyesalan akan datang di akhir dan kini aku ada di akhir.
_
_

Boltim, 20 April 2020
Penulis : Perempuan yang tak ingin disebutkan

Melampaui Kenangan

Pagi hampir tiba, sementara aku masih terkurung dalam kamar dengan ukuran 2x3 m dengan debu dan sedikit kenangan.


Hampir tak ada kata-kata yang bisa dituliskan, bayanganmu masih saja kosong. Hampir 24 jam aku membayangkan dunia tanpa jendela, tanpa masa depan.

Dan waktu masih saja berputar-putar dalam keheningan. Membayangkan dosa, karma dan surga yang setiap hari hinggap di pelupuk matamu.

Kemudian kita terjatuh, menghadapi Tuhan yang setengah murka. Dan cinta yang hampir saja menjadi neraka untuk kita.

Maret 2020

Catatan 3

 Setiap sudut kota menyimpan segala hal yang bisa kita ceritakan, termaksud rahasia yang kita simpan rapat-rapat.


Kamu mungkin bagian dari catatan kecil ini, tentang manusia yang yang mencari peruntungan dengan kaki telanjang dan ribuan alasan yang menghuni kepala.

Di sana ada mikrolet hijau dengan suara bising; Kairagi, Perkamil, banjer, paal 2, dan daerah-daerah yang asing ditelinga. pedagang asongan yang siap berdesakan dengan pejalan kaki, pekerja kantoran yang merelakan sepatunya menyatu dengan aspal untuk menghemat biaya pengeluaran, polisi yang siap menerkam dan mencari keuntungan jika tidak mematuhi aturan negara. Lalu ada kau dan aku, yang hidup dengan dunia entah, lalu lupa kalau kita akan pulang menemui kenyataan yang selalu sama.

Saat malam, kota ini berubah menjadi surga. perempuan-perempuan dengan mata jelita dan wajah yang tidak pernah beranjak tua dengan tubuh yang siap menelan hasrat dan kemunafikan dari penghuni kota, persis seperti apa yang telah di janjikan tuhan. Kau bisa memasukinya tentu dengan takaran dosa dan pahala yang kau buang atau simpan jauh di dalam kepala.

Kota ini menyimpan segala hal yang bisa kita ceritakan dan rahasia yang belum bisa aku pahami. 

Catatan 2

 Aku mendengar deretan lagu dengan lirik-lirik yang begitu manis.

Tapi kau tak kutemukan diantara alunan rindu yang begitu panjang.
Mungkin musik terlalu rumit untuk menjelaskan dirimu, manusia dengan tubuh dan rasa yang entah untuk siapa.

Aku mencoba segala hal. menulismu dalam bait-bait puisi, yang hidup setelah kita bertemu. Tetapi di dalam kepala kau telentang sebagai luka dan doa yang tidak pernah aku selesaikan.

Kau memberikan harapan itu. Cinta, tapi bukan untukku.

Catatan 1

Seorang perempuan mengeja nasib di atas kasur dengan senyuman dan nyanyian yang begitu sunyi.

Kau bisa membayangkan, dunia gelap tanpa ujung. dengan cinta dan birahi yang kau temukan disetiap sudut rumah itu.

Aku juga melihatnya, takdir yang di kendalikan oleh kata-kata dengan tuhan yang tidak akan kau temukan bersama janji dan keabadian

Kenapa nama menjelma doa jika yang kita bingkai adalah masa depan dengan harapan yang itu-itu saja?

Lalu kau datang merapalkan doa-doa yang sedari tadi aku tulis pada catatan yang belum pernah aku usaikan.

_

_

Manado, 24 Oktober 2020





Kegilaan

Malam ini akan kubacakan padamu sebuah mantra lengkap dengan cinta dari kedua mata Majnun kepada Layla. Hum, biarkan tuhan menari.  Aku akan...