Monday, June 13, 2022

Kegilaan


Malam ini akan kubacakan padamu sebuah mantra lengkap dengan cinta dari kedua mata Majnun kepada Layla.

Hum, biarkan tuhan menari.  Aku akan merayuNya dan meminta kau bersemayam di dalam dada. 

Hum, Biarkan tuhan bernyanyi. Akan aku panjatkan doa, dan membiarkan kita berada di satu takdir yang sama. 

Lalu akan kuletakkan kedua bola mataku. Dengan itu, kau akan melihat wajah tuhan yang cemburu.

Hari ke-4 di rumah


Setiap rumah adalah ruang percakapan dari tubuh ke tubuh. Melihat peristiwa dengan pandangan mata yang tidak pernah utuh. Di situ ada ibumu. Bertelut merapalkan mantra dan menangis tanpa air mata.

-

-

Januari 2020

Bapak




Aku memberikan gambar bapak kepada seorang peramal. Dengan matanya dia menuturkan padaku tiga bentuk garis wajah bapak yang mulai berkerut. 


Bentuk pertama; pertemuan antara garis takdir dan kesedihan. Dengan itu dia mengumpulkan air mata anak-anak dan diletakkan pada pundaknya.


Bentuk kedua; pertemuan antara garis takdir dan kesunyian. Dengan itu dia menyimpan segala hal, termasuk rahasia yang tidak dia inginkan.


Pada bentuk ketiga peramal itu gemetar. Dia hanya menemukan satu garis. Pada garis itulah aku akan bertemu bapak dengan senyum yang panjang dan kematian yang akan berakhir di atas meja makan.

-

-

Januari 2021

Wednesday, January 20, 2021


Aku letakan rumah di pundak bersama doa-doa yang disemayamkan sejak aku berada di rahim ibu.


Yang tak pulang, tak akan hilang.

-

-

Selamat ulang tahun mama Baini Djola

Monday, January 18, 2021

15 HARI JANUARI

Aku masih memimpikan kita. Duduk ditepi pantai dan bercerita tentang masa depan yang telanjang dengan satu pandangan mata. Kau tidur dipangkuanku dan tak lupa mengucapkan selamat tinggal.


Namamu tertulis panjang, namun di ujung catatan pena telah terlanjur patah. Tulisannya pudar kubiarkan terbuka, sejenak menutupi ingatan; mengabur perlahan.

Tentu saja sepi seperih itu. Bayanganmu datang memeluk hangat, menyanyikan lagu dan membacakan puisi dengan irama sendu.

Di hadapanku kau membelah menjadi dua. Pertama, lelaki yang tertawa dan mencoba mengeja nama-nama; di lain sisi kau menusuk diri sendiri. Kedua, kau yang menangis lalu terjebak bosan; membiarkan diri yang lain sendiri dengan begitu sunyi.

Monday, December 28, 2020

MENUJU PULANG

Setelah percakapan selesai. kau beranjak ke pantai, aku mengikutimu dari belakang dengan mata yang terlanjur cinta. setiap langkah adalah rindu,  dan ciuman tersimpan menjadi kenangan dalam jangka waktu yang tidak bisa aku tentukan.

Setibanya di sana, kita mendapati ombak bernyanyi dengan begitu sunyi. ada aku yang diam, yang sedari tadi ternyata hanya memeluk bayang, perih. Tetapi sebagai nama kau masih terlentang sebagai doa.

dosa menjadi makan malam yang hanya berujung entah. Kau memberikan harapan  walaupun dengan tatapan yang begitu kabur dari apa yang pernah kita ceritakan.

Aku begitu dalam menikmati setiap jengkal tubuh telanjang, menginginkan gelap untuk selalu abadi. Agar bisa merasakan dirimu, dan perlahan mengeja namaku dari malam-malam yang telah kita lewati sebagai kekasih yang menginginkan untuk selalu tanggal.

Tetapi waktu akan selalu menuju pagi, terang dan kau perlahan hilang. yang berbekas hanyalah bibir dan namaku tidak pernah tertulis.

.

.

28 Desember 2020


Tuesday, December 1, 2020

Malam Ulang Tahun

Pada pagi yang begitu asing, aku menemukan lembaran ingatan disertai  harapan yang begitu panjang.


Waktu itu kita bersama merayakannya, kau membaca puisi lalu kita sama-sama tersenyum hingga cemas hinggap dikepala kita masing-masing.


Lilin ditiup, do'a ditaburkan dengan suka cita. Dan kita menafsir beda antara dunia dengan kata-kata.

-

-

Nela Lasene

23 september 2020



Kegilaan

Malam ini akan kubacakan padamu sebuah mantra lengkap dengan cinta dari kedua mata Majnun kepada Layla. Hum, biarkan tuhan menari.  Aku akan...