Setelah percakapan selesai. kau beranjak ke pantai, aku mengikutimu dari belakang dengan mata yang terlanjur cinta. setiap langkah adalah rindu, dan ciuman tersimpan menjadi kenangan dalam jangka waktu yang tidak bisa aku tentukan.
Setibanya di sana, kita mendapati ombak bernyanyi dengan begitu sunyi. ada aku yang diam, yang sedari tadi ternyata hanya memeluk bayang, perih. Tetapi sebagai nama kau masih terlentang sebagai doa.
dosa menjadi makan malam yang hanya berujung entah. Kau memberikan harapan walaupun dengan tatapan yang begitu kabur dari apa yang pernah kita ceritakan.
Aku begitu dalam menikmati setiap jengkal tubuh telanjang, menginginkan gelap untuk selalu abadi. Agar bisa merasakan dirimu, dan perlahan mengeja namaku dari malam-malam yang telah kita lewati sebagai kekasih yang menginginkan untuk selalu tanggal.
Tetapi waktu akan selalu menuju pagi, terang dan kau perlahan hilang. yang berbekas hanyalah bibir dan namaku tidak pernah tertulis.
.
.
28 Desember 2020
Keren akak
ReplyDeleteYuhuu
DeleteCurahan hati seorang entah!?
ReplyDelete