Aku masih memimpikan kita. Duduk ditepi pantai dan bercerita tentang masa depan yang telanjang dengan satu pandangan mata. Kau tidur dipangkuanku dan tak lupa mengucapkan selamat tinggal.
Namamu tertulis panjang, namun di ujung catatan pena telah terlanjur patah. Tulisannya pudar kubiarkan terbuka, sejenak menutupi ingatan; mengabur perlahan.
Tentu saja sepi seperih itu. Bayanganmu datang memeluk hangat, menyanyikan lagu dan membacakan puisi dengan irama sendu.
Di hadapanku kau membelah menjadi dua. Pertama, lelaki yang tertawa dan mencoba mengeja nama-nama; di lain sisi kau menusuk diri sendiri. Kedua, kau yang menangis lalu terjebak bosan; membiarkan diri yang lain sendiri dengan begitu sunyi.
No comments:
Post a Comment